[Info] 120902 Hal-hal yang harus diketahui mengenai Jepang

  1. Zaman di Jepang
Pada dasarnya, Jepang memiliki banyak jaman sesuai dengan perubahan masa dan kekuasaan. Namun, secara garis besar Jepang dibagi menjadi 5 periode. Periode tersebut meliputi
  1. Abad kuno atau disebut dengan ‘Kodai’. Periode ini meliputi zaman primitif / Genshi Jidai (abad ke-3), zaman Yamato (592), zaman Nara (710), dan zaman Hei An (794-1192)
  2. Abad pertengahan atau disebut dengan ‘Chuusei’ yang meliputi zaman Kamakura (1192-1333), zaman Muromachi (1334-1573), dan zaman Azuchi Momoyama (1573-1603)
  3. Abad pra modern atau ‘Kinsei’ yang dimulai dengan zaman Edo (1603-1868)
  4. Abad modern atau ’Kindai’. Pada periode Jepang banyak mengalami perubahan dan mulai dikenal dunia luar. Zaman yan sering dibicarakan ini dikenal dengan zaman Meiji (1868-1912)
  5. Dewasa ini atau lebih dikenal dengan ‘Gendai’. Periode ini meliputi zaman Taisho (1912-1926), zaman Showa (1926-1991), dan zaman Heisei (1991-sekarang)
Dalam perputaran tiap zaman, Jepang juga mengalami perubahan kebudayaan. Namun, perubahan yang paling besar (meliputi sosial dan politik) adalah saat terjadinya ‘Restorasi Meiji’. Pada saat itu, Jepang dipaksa untuk kembali membuka diri untuk negara luar.
  1. Nama-nama orang Jepang
Sejarah Penggunaan Nama Keluarga
Sebelum zaman Meiji (1868-1912), penggunaan nama keluarga adalah sesuatu yang jarang dilakukan kecuali oleh keluarga samurai, bangsawan, pedagang, dan pekerja seni. Rakyat jelata yang menjadi mayoritas masyarakat pada saat itu ditunjukkan oleh nama pemberian mereka dan wilayah tempat mereka berasal. Selama berlangsungnya zaman Meiji, pemerintah bakufu dengan pengesahan dari Tenno Meiji menjadikan penggunaan nama keluarga ini wajib bagi setiap orang dan mereka harus memilih nama keluarga dari daftar huruf kanji yang belum disahkan seperti sekarang.
Karakteristik Nama Keluarga
Mayoritas nama keluarga Jepang terdiri dari satu atau dua kanji yang sebagian besar merupakan petunjuk geografis seperti sungai (kawa), gunung (yama), atau hutan (mori) juga kata sifat yang menggambarkan sesuatu yang mudah dihafal seperti kanji satu (ichi), kecil (koba), atau bambu (take). Nama keluarga muncul dengan beragam frekuensi di beberapa daerah; contohnya, nama keluarga Chinen (知念), Higa (比嘉), dan Shimabukuro (島袋) sangat umum di Okinawa tapi tidak di daerah; sebagian besar karena perbedaan bahasa dan budaya antara orang Yamato (kelompok etnis asli dominan di Jepang) dan orang Okinawa.
Di Jepang, memanggil seseorang dengan nama keluarga bahkan di antara teman menjadi sebuah kebiasaan. Sama ketika menulis nama seseorang, nama keluarga selalu disimpan sebelum nama pemberian (nama depan). Banyak orang Jepang yang tersinggung ketika nama depan dan nama belakang mereka dipertukarkan seenaknya.
Berdasarkan Kamus Nama Keluarga Jepang (日本苗字大辞典) yang dikeluarkan Juli 1996, terdapat 291.129 nama keluarga yang berbeda di Jepang. Jika nama-nama keluarga tersebut dilafalkan atau dilatinkan sama tapi ditulis dengan huruf kanji yang berbeda maka dihitung sebagai nama keluarga yang berbeda pula, dari sini dipercaya terdapat kira-kira 300.000 nama keluarga di Jepang. Sepuluh nama keluarga dipakai sekitar 10% populasi, dan 7000 nama keluarga yang paling sering dipakai melingkupi lebih dari 96%. Sedangkan, 100 nama keluarga yang paling sering digunakan di bawah melingkupi hampir satu pertiga populasi. Berikut adalah keseratus satu nama tersebut:
1. Sato memiliki arti “wisteria bantuan” (佐藤)
2. Suzuki memiliki arti “pohon lonceng kecil” (鈴木)
3. Takahashi memiliki arti “jembatan tinggi” (高橋)
4. Tanaka memiliki arti “tengah sawah” (田中)
5. Watanabe memiliki arti “batas seberang” (渡辺)
6. Ito memiliki arti “wisteria itu” (伊藤)
7. Yamamoto memiliki arti “gunung asal” (山本)
8. Nakamura memiliki arti “tengah kampung” (中村)
9. Ohayashi memiliki arti “hutan kecil” (小林)
10. Kobayashi memiliki arti “hutan kecil” (小林)
11. Kato memiliki arti “wisteria yang menambah” (加藤)
12. Kichida memiliki arti “sawah kegembiraan” (吉田)
13. Yoshida memiliki arti “sawah kegembiraan” (吉田)
14. Yamada memiliki arti “sawah di gunung” (山田)
15. Sasaki memiliki arti “pohon bantuan” (佐々木)
16. Yamaguchi memiliki arti “mulut gunung” (山口)
17. Matsumoto memiliki arti “pohon pinus asal” (松本)
18. Ine memiliki arti “atas sumur” (井上)
19. Inoue memiliki arti “atas sumur” (井上)
20. Saito memiliki arti “wisteria penyucian” (斎藤)
21. Kimura memiliki arti “kampung pohon” (木村)
22. Hayashi memiliki arti “hutan kecil” (林)
23. Rin memiliki arti “hutan kecil” (林)
24. Kiyomizu memiliki arti “air suci” (清水)
25. Shimizu memiliki arti “asir suci” (清水)
26. Yamasaki memiliki arti “lembah gunung” (山崎)
27. Ikeda memiliki arti “sawah berkolam” (池田)
28. Abe memiliki arti “bagian sudut” (阿部)
29. Mori memiliki arti “hutan” (森)
30. Hashimoto memiliki arti “jembatan asal” (橋本)
31. Yamashita memiliki arti “gunung di bawah” (山下)
32. Ishikawa memiliki arti “sungai berbatu” (石川)
33. Nakashima memiliki arti “pulau pusat” (中島)
34. Maeda memiliki arti “depan sawah” (前田)
35. Fujita memiliki arti “sawah wisteria” (藤田)
36. Ogawa memiliki arti “sungai kecil” (小川)
37. Kokawa memiliki arti “sungai kecil” (小川)
38. Okada memiliki arti “sawah di bukit” (岡田)
39. Gato memiliki arti “belakang wisteria” (後藤)
40. Goto memiliki arti “belakang wisteria” (後藤)
41. Hasegawa memiliki arti “sungai lembah panjang”(長谷川)
42. Hayagawa memiliki arti “sungai lembah panjang” (長谷川)
43. Samurakami memiliki arti “kampung atas” (村上)
44. Murakami memiliki arti “kampung atas” (村上)
45. Kondo memiliki arti “dekat wisteria” (近藤)
46. Chikafuji memiliki arti “dekat wisteria” (近藤)
47. Ishii memiliki arti “sumur berbatu” (石井)
48. Sakamoto memiliki arti “bukit asal” (坂本)
49. Endo memiliki arti “wisteria yang jauh” (遠藤)
50. Aoki memiliki arti “pohon hijau” (青木)
51. Fujii memiliki arti “sumur wisteria” (藤井)
52. Nishimura memiliki arti “kampung barat” (西村)
53. Fukuda memiliki arti “sawah keberuntungan” (福田)
54. Oota memiliki arti “sawah besar” (太田)
55. Miura memiliki arti “tiga teluk” (三浦)
56. Fujihara memiliki arti “padang wisteria” (藤原)
57. Okamoto memiliki arti “bukit asal” (岡本)
58. Matsuda memiliki arti “sawah berpohon pinus” (松田)
59. Saitou memiliki arti “wisteria yang sama” (斉藤)
60. Nakagawa memiliki arti “sungai tengah” (中川)
61. Nakano memiliki arti “padang tengah” (中野)
62. Harada memiliki arti “sawah di padang rumput” (原田)
63. Ono memiliki arti “padang kecil” (小野)
64. Kono memiliki arti “padang kecil” (小野)
65. Sanu memiliki arti “padang kecil” (小野)
66. Takeuchi memiliki arti “rumah bambu” (竹内)
67. Tamura memiliki arti “kampung bersawah” (田村)
68. Kaneko memiliki arti “anak emas” (金子)
69. Wada memiliki arti “sawah Jepang” (和田)
70. Nakayama memiliki arti “gunung tengah” (中山)
71. Ishida memiliki arti “sawah berbatu” (石田)
72. Ageda memiliki arti “sawah atas” (上田)
73. Ueda memiliki arti “sawah atas” (上田)
74. Kamida memiliki arti “sawah atas” (上田)
75. Jouda memiliki arti “sawah atas” (上田)
76. Morita memiliki arti “sawah hutan” (森田)
77. Hara memiliki arti “padang rumput” (原)
78. Shibata memiliki arti “sawah kayu bakar” (柴田)
79. Sakai memiliki arti “sumur tuak” (酒井)
80. Sakei memiliki arti “sumur tuak” (酒井)
81. Kudo memiliki arti “pendirian wisteria” (工藤)
82. Kodo memiliki arti “pendirian wisteria” (工藤)
83. Yokoyama memiliki arti “gunung datar” (横山)
84. Miyazaki memiliki arti “tanjung istana” (宮崎)
85. Miyamoto memiliki arti “istana asal” (宮本)
86. Uchida memiliki arti “sawah dalam” (内田)
87. Kouki memiliki arti “pohon tinggi” (高木)
88. Takaki memiliki arti “pohon tinggi” (高木)
89. Ando memiliki arti “wisteria yang damai” (安藤)
90. Taniguchi memiliki arti “mulut lebah” (谷口)
91. Oono memiliki arti “padang luas” (大野)
92. Imai memiliki arti “sumur sekarang” (今井)
93. Maruyama memiliki arti “gunung melingkar” (丸山)
94. Kouda memiliki arti “sawah tinggi” (高田)
95. Takata memiliki arti “sawah tinggi” (高田)
96. Kawano memiliki arti “padang sungai” (河野)
97. Kouno memiliki arti “padang sungai” (河野)
98. Fujimoto memiliki arti “wisteria asal” (藤本)
99. Ojima memiliki arti “pulau kecil” (小島)
100. Kojima memiliki arti “pulau kecil” (小島)
101. Takeda memiliki arti “sawah prajurit” (武田)
Nama Jepang modern terdiri dari nama keluarga, diikuti oleh nama panggilan,m nama tengah tidak dikenal di Jepang. Setelah nama gelar seperti san, mirip dengan tuan atau nyonya, atau sensei, mirip dengan Dokter atau Guru, juga digunakan. Dalam bahasa Indonesia, setara dengan sebutan Bapak atau Ibu atau Dokter. Contoh: Tanaka-san, bisa berarti Bapak Tanaka, atau Ibu Tanaka, atau Saudara Tanaka. Gelar ini digunakan untuk memanggil orang lain, bukan diri sendiri. Misalnya jika seseorang bernama Budi, seyogyanya jangan memperkenalkan dirinya sebagai ‘saya Budi-san’ sebab nanti akan ditertawakan.
Nama keluarga Jepang harus ditulis dalam aksara Kanji, tidak ada nama keluarga Jepang yang tidak mempunyai Kanji. Nama panggilan juga biasanya ditulis dalam aksara Kanji meskipun tidak selalu. Ada juga orang Jepang yang menggunakan huruf hiragana atau katakana saja untuk nama panggilannya. Suatu tulisan kanji dari sebuah nama dapat memiliki beberapa kemungkinan pengucapan. Nama Jepang biasanya juga mempunyai marga seperti halnya nama Tionghoa.
Gelar Kehormatan Jepang
Bahasa Jepang menggunakan sufiks yang luas ketika menyebut atau memanggil orang. Gelar kehormatan ini adalah gender-netral dan dapat digunakan baik pada nama pertama atau nama keluarga.
Ketika memanggil atau menyebut seseorang dengan nama dalam bahasa Jepang, suatu akhiran kehormatan biasanya ditambahkan dibelakang nama. Tidak menggunakan gelar kehormatan – atau disebut yobisute mengindikasikan bahwa ada hubungan intim dan biasanya digunakan untuk pasangan, anggota keluarga yang lebih mudah, sahabat dekat, meskipun dalam tim olahraga atau sesama teman kelas hal ini bisa dimaklumi dengan memanggil nama keluarga saja tanpa gelar kehormatan tersebut. Ketika menyebutkan orang ketika, gelar ini digunakan kecuali saat menyebutkan anggota keluarga sendiri saat berbicara kepada bukan anggota keluarga, atau saat menyebutkan anggota dari perusahaan sendiri saat berbicara pada pelanggan atau seseorang dari perusahaan lain. Gelar kehormatan tidak digunakan untuk diri sendiri, kecuali jika bersikap sombong (lihat ore-sama, dibawah), merasa imut (lihat chan), atau saat berbicara pada anak kecil, untuk mengajari berbicara sopan dengan orang lain saat menyebut nama.
Gelar kehormatan umum
·        San
San (さん), kadang-kadang diucapkan han (はん) pada Dialek Kansai, adalah gelar kehormatan paling umum dan mempunyai arti hormat yang sama dengan “Tuan”, “Nyonya”, “Nona”, dll. Tetapi, selain digunakan untuk nama orang, gelar ini juga digunakan dalam cara lain.
San digunakan dengan kata tempat kerja, seperti penjual buku bisa dipanggil atau disebut honya-san (“toko buku” + san).
San juga digunakan bersama dengan nama perusahaan. Sebagai contoh, perusahaan atau toko yang bernama Kojima Denki bisa dipanggil sebagai “Kojima Denki-san” oleh perusahaan lain. Ini bisa dilihat pada peta kecil di buku telepon dan kartu nama di Jepang, dimana perusahaan di sekeliling perusahaan tersebut disebut menggunakan san.
San juga bisa digunakan pada nama binatang atau objek tidak bergerak. Sebagi contoh, kelinci peliharaan bisa dipanggil usagi-san, dan ikan untuk dimasak bisa disebut sakana-san. Keduanya bisa dianggap sebagai hal kekanak-kanakan (contoh Tuan Kelinci dalam bahasa Indonesia) dan biasanya tidak digunakan dalam pembicaraan formal. Penggunaan san juga jarang digunakan pada pasangan yang sudah menikah.
Dalam dunia maya, Pemain game Jepang sering menggunakan angka 3 pada pemain lain untuk menyebutkan san (contoh Taro3 artinya Taro-san), karena angka tiga ditulis (さん, san) yang diucapkan “san”.
·        Chan
Chan (ちゃん?) adalah akhiran kecil, gelar ini mengungkapkan bahwa si pembicara sedang berbicara pada orang yang dikasihi. Maka, menggunakan chan dengan nama orang yang lebih tinggi dari kita akan dianggap merendahkan dan kasar. Secara umum, chan digunakan untuk bayi, anak kecil, dan gadis remaja. Gelar ini bisa diaplikasikan pada binatang imut, pasangan, teman dekat, atau pada perempuan muda lainnya.
Walaupun secara tradisional gelar kehormatan tidak digunakan pada diri sendiri, beberapa gadis muda mengadopsi atau memangil dirinya kepada orang ketiga dengan menggunakan chan. Sebagai contoh, gadis muda bernama Kanako mungkin akan menyebut namanya dengan Kanako-chan daripada menggunakan nama nya sendiri.
·        Kun
Kun (君【くん】) digunakan oleh orang dengan status senior ketika menyebutkan atau memanggil orang yang lebih junior dari dirinya, atau kepada seseorang lain saat menyebut atau memanggil anak atau remaja laki-laki. Gelar ini bisa digunakan juga oleh perempuan ketika menyebutkan laki-laki yang sangat berarti baginya atau dikenalnya sejak lama. Walapun secara umum kun digunakan untuk laki-laki, hal ini tidak kaku. Sebagai contoh, dalam lingkungan bisni, pegawai wanita yang junior bisa dipanggil kun oleh laki-laki yang senior.
Pada Parlemen Jepang, ketua menggunakan kun ketika menyebutkan anggota parlemen dan menteri. Sebuah perkecualian saat Takako Doi adalah ketua Majelis rendah jepang, dia menggunakan gelar san.
·        Sama
Sama (様 【さま】) adalah versi lebih hormat dari san. Gelar ini digunakan untuk menyebut orang dengan tingkat yang lebih tinggi dari dirinya, pada pelanggan, atau pada orang yang dikaguminya. Ketika menyebut untuk dirinya sendiri, sama hal ini bisa dianggap sombong atau angkuh.
Sama digunakan pada nama penerima dalam surat dan paket pos dan dalam e-mail bisnis.
Sama juga muncul dalam frasa seperti o-machidō sama (“maaf menunggu lama”), o-tsukare sama (sebuah ekspresi empati dari orang yang telah lama bekerja keras).
·        Senpai dan kōhai
Senpai (先輩 【せんぱい】) digunakan untuk menyebut atau memanggil rekan yang lebih senior di sekolah, perusahaan, klub olahraga, atau grup lain. Di sekolah, siswa dengan kelas lebih tinggi dari dirinya dipanggil senpai. Siswa dengan kelas atau kelas lebih rendah dan guru tidak akan dipanggil senpai. Pada lingkungan bisnis, rekan dengan pengalaman kerja tinggi dipanggil senpai, tetapi boss tidak akan dipanggil senpai. Seperti “guru”, “dokter”, senpai bisa digunakan tanpa menyebutkan nama orang tersebut.
Kōhai (後輩 【こうはい】) adalah untuk senior pada junior, kebalikan dari senpai, tetapi jarang digunakan.
·        Sensei
Sensei (先生 【せんせい】) (secara harafiah “lahir lebih dahulu”) digunakan untuk menyebut atau memanggil guru, dokter, politikus, atau tokoh yang mempunyai wewenang. Gelar ini digunakan untuk menunjukkan hormat pada seseorang yang telah menguasai tingkat tertentu dalam seni atau kemampuan lain, gelar ini bisa juga digunakan pada novel, penyair, pelukis, dan seniman lain, termasuk seniman manga. Pada Seni bela diri jepang, sensei biasanya digunakan untuk menyebut ketua dojo. Sama dengan senpai, sensei bisa digunakan tidak hanya sebagai akhiran, tetapi juga gelar yang berdiri sendiri.
·        Shi
Shi (氏 【し】) digunakan untuk tulisan formal, kadang-kadang juga dalam pembicaraan sangat formal, untuk menyebut seseorang yang tidak dikenal pembicara, biasanya orang yang dikenal pembicara melalui publikasi tapi tidak pernah bertemu. Sebagai contoh gelar shi digunakan untuk dalam perkataan pembawa berita. Shi lebih digunakan dalam dokumen resmi, jurnal akademis, dan beberapa tulisan lain. Sekali nama seseorang disebutkan dengan shi, orang itu dapat dipanggil dengan shi saja, tanpa nama, selama hanya satu orang saja yang disebut dengan shi.
Gelar lain
·        Gelar terkait pekerjaan
Sangat umum untuk menggunakan nama pekerjaan seseorang setelah nama orang tersebut. Seperti, seorang atlet (選手 senshu) bernama Ichiro bisa dipanggil sebagai “Ichiro-senshu” daripada “Ichiro-san“, dan tukang kayu (棟梁 tōryō) bernama Suzuki bisa dipanggil sebagai “Suzuki-tōryō” daripada “Suzuki-san“.
Pada lingkungan bisnis, sangat umum untuk menyebut orang dengan tingkatannya, terutama jabatan/wewenangnya, seperti kepala departemen (部長 buchō) atau presiden direktur (社長 shachō). Baik dalam perusahaan sendiri atau ketika berbicara tentang perusahaan lain, jabatan + san digunakan, jadi presdir adalah Shachō-san. Ketika berbicara dalam perusahaan sendiri kepada konsumen atau perusahaan lain, jabatan digunakan sendiri atau ditambahkan nama orang tersebut, jadi kepala departemen bernama Suzuki disebut dengan Buchō atau Suzuki-buchō.,,,,
·        Variasi Baby talk (ucapan bayi)
Beberapa gelar mempunyai versi ucapan bayi-yang sering salah diucapka dan diasosiasikan dengan anak kecil, dan keimutan. Versi ucapan bayi dari sama adalah chama (ちゃま), sebagai contoh, faktanya chan adalah versi ucapan bayi dari san yang kemudian digunakan secara umum.
Bahkan ada versi ucapan bayi dari versi ucapan bayi. Chan diganti menjadi tan (たん), dan versi kurang umum, chama (ちゃま) menjadi tama (たま). Gelar ini biasanya digunakan untuk moe antromoforsisme, dimana perempuan imut, atau karakter laki-laki (jarang) merepresentasikan objek, konsep, atau produk populer tertentu.
·        Gelar dalam keluarga
Kata untuk anggota keluarga mempunyai dua bentuk dalam bahasa Jepang. Saat menyebut keluarga sendiri pada saat berbicara pada orang bukan keluarga, kata benda deskriptif digunakan, seperti haha (母) untuk “ibu” dan ani (兄) untuk “kakak laki-laki”. Ketika menyebut keluarga sendiri atau menyebut pada anggota keluarga orang lain, gelar kehormatan digunakan. Dengan menggunakan sufiks san, secara umum, “ibu” menjadi okaa-san (お母さん) dan “kakak laki-laki” menjadi onii-san (お兄さん). Kadang gelar kecil seperti chan atau gelar hormat sama digunakan daripada menggunakan san. Sementara itu, saat saudara lebih muda menyebut saudara lebih tua dengan onii-san atau onee-san, saudara yang lebih tua memanggil saudara mudanya dengan nama saja. Sama dengan orang tua memanggil anaknya hanya dengan nama saja tanpa gelar.
  • Otou-san (お父さん): ayah, atau otou-sama (さま). Dari chichi ().
    • Oji-san (叔父さん/小父さん/伯父さん 【おじさん】): paman (atau pria paruh baya). –san bisa diganti dengan –sama atau –chan (ちゃん).
    • Ojii-san (お祖父さん/御爺さん/お爺さん/御祖父さん 【おじいさん】): kakek . –san bisa diganti dengan –sama atau –chan.
  • Okaa-san (お母さん): Ibu, ata okaa-sama. dari haha ().
    • Oba-san (伯母さん/小母さん/叔母さん 【おばさん】): Bibi (perempuan paruh baya). –san bisa diganti dengan –sama atau –chan.
    • Obaa-san (お祖母さん/御祖母さん/御婆さん/お婆さん 【おばあさん】): nenek. –san bisa diganti dengan –sama atau –chan.
  • Onii-san (お兄さん): Kakak laki-laki (laki-laki muda), atau onii-sama, atau onii-chan. dari ani ().
  • Onee-san (お姉さん): Kakak perempuan (perempuan muda), atau onee-sama, atau onee-chan. dari ane ().

 

Shared by : michan | https://lovejapanandkorea.wordpress.com/

TAKE OUT WITH FULL CREDIT !

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s