[Info] 120904 Agama dan Tradisi Bagi Masyarakat Jepang

 

Pada umumnya orang Jepang adalah penganut agama Shinto, Budha atau agama-agama baru yang berafiliasi pada Shinto dan Budha dan sejumlah kecil sekali penganut Kristen. Jika ditanyakan kepada orang Jepang “anda agamanya apa?”, maka jawaban yang sering kali diperoleh adalah “saya tidak beragama” atau “agama tidak perlu bagi orang Jepang” atau jawaban yang semacamnya. Memang sulit untuk mengukur keagamaan orang Jepang. Di rumah-rumah mereka biasanya bukan saja butsudan (altar Budha) yang akan kita temukan, tapi di rumah yang sama juga akan bisa kita lihat kamidana (altar Shinto).


Dalam perkawinan, mereka tidak mempersoalkan agama. Perkawinan antar agama apapun bisa dengan mudah terjadi. Seseorang yang beragama Budha bisa menikah dengan penganut Shinto atau penganut Kristen atau sebaliknya. Begitu pula dalam menyelenggarakan akad nikah mereka dengan bebas memilih cara yang mereka ingini.

Apakah dengan cara Shinto di jinja (kuil Shinto) atau dengan cara Budha di tera (kuil Budha) atau di Kyokai (gereja), namun di saat kematian biasanya mereka meminta bantuan tera (kuil Budha), karena di kuil Shinto tidak menerima penyelenggaraan kematian.

Jika dilihat dari angka sensus penduduk beragama di Jepang, biasanya menunjukkan jumlah angka penduduk beragama yang mencapai satu setengah kali jumlah penduduk Jepang yang sesungguhnya.

Dalam upacara kematian biasanya orang Jepang mengungkapkan turut berduka citanya dengan memberi okoden yaitu uang bela sungkawa yang besarnya berkisar antara ¥ 5.000 – 10.000. Sementara jika diundang perkawinan orang Jepang akan memberikan semacam hadiah tanda selamat yang disebut oiwai berupa uang dengan jumlah berkisar antara ¥ 10.000 – 20.000 atau lebih, bergantung dari di mana resepsi perkawinan itu diselenggarakan. Orang Jepang di dalam kehidupannya amat menyukai matsuri.

Matsuri adalah upacara-upacara yang dilakukan orang Jepang yang sifatnya keagamaan atau keyakinan. Matsuri-matsuri ini ada yang diselenggarakan secara periodik, ada pula yang sifatnya aksidental. Penyelenggaraan matsuri merupakan medan pertemuan antara warga desa ataupun warga kota sesamanya. Contoh-contoh matsuri yang amat terkenal antara Gion matsuri, Tanabata matsuri, Nebuta matsuri dan lain-lain.

Shared by : michan | https://lovejapanandkorea.wordpress.com/

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s