[Info] 120904 Berbagai Macam Pemondokan di Jepang

Bagi orang asing begitu tiba di Jepang, salah satu permasalahan yang sering dihadapi adalah sarana pemondokan, terutama bagi mereka yang akan tinggal di kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, Osaka, dan Yokohama. Masalah pemondokan di kota-kota besar ini bukan saja harga sewanya yang sangat mahal, tetapi juga sulitnya mencari tempat pemondokan yang cukup strategis bagi si pendatang tersebut.
Bagi para mahasiswa asing yang sedang belajar di Jepang kesulitan tersebut akan makin terasa karena mereka harus pandai-pandai mengatur keuangannya yang mereka terima dari sponsor, dimana uang yang diterimanya tersebut bukan saja hanya untuk keperluan pembayaran sewa rumahnya tetapi juga untuk kebutuhan hidup sehari-hari yang biayanya cukup mahal.
Namun demikian untuk para mahasiswa asing penerima beasiswa Monbukagakusho yang begitu datang diharuskan belajar dulu mengenai bahasa Jepang, biasanya mereka ini ditampung di suatu asrama yang harga sewanya relatif murah dengan sarana yang relatif lengkap. Selama belajar bahasa, fasilitas asrama hanya dikhususkan bagi mereka yang tidak membawa keluarga. Setelah mahasiswa selesai berlajar bahasa, mereka langsung disebar ke setiap universitas tempat mereka belajar dalam bidang keahliannya masing-masing. Lama kursus bahasa ini adalah 6 bulan. Jadi bila para mahasiswa datang pada bulan April maka kursus bahasa harus sudah selesai pada bulan September. Dengan demikian para mahasiswa harus sudah meninggalkan tempat pemondokannya (asrama) pada “akhir” bulan September. Oleh karena pendidikan di Jepang, termasuk pendidikan di Universitas, dimulai pada bulan April maka selama enam bulan pertama sejak ia diterima di suatu universitas (bulan Oktober sampai dengan Maret) setiap mahasiswa akan diterima di masing-masing universitas sebagi mahasiswa riset (kenkyusei). Untuk dapat diterima sebagi mahasiswa pascasarjana (daigakuin-sei) tergantung dari kemampuan yang bersangkutan selama menjadi kenkyusei dari hasil ujian masuk.

Selain asrama di masing-masing perguruan tinggi, AIEJ, Center for Domestic and Foreign Students atau lembaga lainnya juga menyediakan asrama bagi mahasiswa asing. Bila terdapat masalah dalam mencari asrama atau pemondokan disarankan agar mahasiswa yang bersangkutan menghubungi PPI (persatuan Pelajar Indonesia) yang cabangnya ada di berbagai kota besar di jepang atau langsung konsultasi dengan bagian Pendidikan Kedutaan Besar Jepang di Megura, Tokyo.

Begitu mahasiswa yang datang di universitas, untuk mempelajari bidang keahliannya, biasanya yang menerima mahasiswa tersebut adalah guru besar (Kyoju), guru besar pembantu (Jukyo-ju) atau Asistan (Joshu) yang akan membimbing yang bersangkutan. Semua urusan yang berhubungan dengan masalah pendidikannya akan dibantu sepenuhnya oleh Kyoju, Jukyo-ju ataupun Joshu. Sedangkan masalah yang berhubungan dengan administrasi kemahasiswaannya akan dibantu oleh Bagian Mahasiswa Asing (Ryugakusei Gakari) yang ada dalam universitas tersebut. Pada tahun-tahun pertama Ryugakusei Gakari ini dapat mengusahakan juga tempat pemondokan.

Meskipun setiap universitas di Jepang mempunyai fasilitas asrama yang cukup besar namun kdang-kadang jumlah mahasiswa yang akan menempati asrama ini melebihi daya tampung dari asrama tersebut. Sehingga tidak sedikit para mahasiswa asing yang baru datang tidak dapat diterima di asrama dan terpaksa harus mencari pemondokan lain. Bila seandainya universitas, tempat para mahasiswa belajar, berada di daerah (bukan di kota-kota besar) masalah mencari tempat pemondokan ini tidak begitu sulit dan harga sewanya pun relatif murah. Sedangkan bagi mereka yang ada di kota-kota besar, untuk mencari pemondokan yang harga sewanya murah terpaksa harus mencari ke tempat yang agak jauh dari universitas.

Sebelum sampai kepada usaha bagaimana cara mencari pemondokan yang murah dan dekat dengan universitas, ada baiknya mengemukakan dulu tipe-tipe pemondokan yang ada di Jepang (selain asrama kepunyaan universitas) yaitu : (1) mansions, (2) apartmen (apato) dan (3) gesshuku. Bagi mereka yang akan menghuni tipe-tipe pemondokan ini di samping harus membayar uang sewa tiap bulannya, terlebih dahulu mereka harus membayar reikin 1-2 bulan sewa (uang kunci) dan shikin sebesar 1-2 bulan uang sewa (uang deposit) dimana besarnya untuk setiap tipe pemondokan tersebut bervariasi tergantungan dari lokasi pemondokannya. Uang reikin merupakan uang bayaran yang tidak dikembalikan. Selain pembayaran tadi penyewa dimintakan untuk membayar sekitar satu bulan sewa kepada real-estate.


1. Mansions

Di Jepang, istilah mansions adalah bangunan-bangunan yang terdiri dari beberapa lantai dan mempunyai banyak tempat tinggal. Umumnya keluarga-keluarga yang tinggal di sini termasuk ke dalam kategori high-class. Bangunan ini terbuat dari feroconcrete dengan tata ruang yang sangat baik. Biasanya jumlah ruangan untuk setiap keluarga terdiri dari tiga kamar, satu kamar mandi dan WC, dan satu ruangan dapur. Saluran listrik, gas dan air sudah tersedia, dan kadang-kadang heater pun untuk setiap ruangan sudah dipasang kecuali di kamar mandi dan WC. Bagi mereka yang berminat untuk menyewa mansions ini di haruskan membayar reikin dan shikikin antara ¥ 600.000 sampai dengan ¥ 1.000.000 tergantung dari besar-kecilnya ruangan dan lokasi dari mansions itu sendiri. Demikian pula perbandingan besarnya reikin dan shikikin tidak sama untuk setiap mansions.

Untuk reikin ini biasanya hanya berlaku untuk setiap dua tahun. Jadi bila ingin diperpanjang lagi para penghuninya setelah dua tahun harus membayar kembali reikin. Kemudian untuk shikikin untuk setiap dua tahun akan dikembalikan dengan memperhitungkan dulu kerusakan ruangan yang ada, sehingga jumlah uang shikikin yang akan dikembalikan kepada si penyewa sering menjadi berkurang karena adanya klaim dari yang punya mansions atas kerusakan yang ada tersebut.

Uang sewa setiap bulan untuk mansions ini juga sangat mahal. Uang sewa ini bervariasi antara ¥ 75.000 sampai ¥ 150.000 dan tidak termasuk untuk pembayaran listrik, gas, dan air. Bisa dibayangkan bagaimana kalau mahasiswa penerima beasiswa Monbukagakusho yang menerima sekitar ¥ 180.000 per bulannya menyewa mansions dengan reikin dan shikikin serta uang sewa per bulannya yang demikian mahalnya. Biasanya yang menyewa mansions ini adalah para pekerja perusahaan (kaisha-in) yang sudah mempunyai kedudukan.

2. Apartments (Apato)

Istilah apato adalah satu atau dua bangunan yang terdiri dari dua lantai, dan biasanya dibuat dari kayu. Di Jepang ada dua macam apato yaitu : (1) yang mempunyai dua atau satu kamar ditambah dengan kamar mandi dan WC dan (2) yang mempunyai dua atau satu kamar, ditambah dengan WC saja (tanpa kamar mandi).

Kedua macam apato tersebut dilengkapi dengan satu ruangan dapur. Tentunya yang mempunyai kamar mandi dan tanpa kamar mandi berbeda dalam soal pembayaran reikin dan shikikin serta uang sewa per bulannya. Apato yang tanpa kamar mandi pembayarannya lebih murah, namun bagi mereka yang akan menyewa apato ini untuk mandinya harus pergi ke sento (tempat mandi umum). Untuk sekali mandi harus bayar ¥ 230 (pada tahun 1988). Di sento ini kadangkadang ada sauna (ruangan untuk memanaskan badan). Untuk masuk ke sauna ini tidak perlu membayar lagi. Umumnya untuk apato yang tidak ada kamar mandinya terletak berdekatan dengan sento.

Pembayaran reikin dan shikikin untuk kedua macam apato tersebut bervariasi dari ¥ 100.000 sampai dengan ¥ 500.000, dan sewa per bulannya antara ¥ 25.000 sampai dengan ¥ 60.000. Adanya variasi harga ini tergantung dari ada atau tidaknya kamar mandi, jumlah kamar, dan jarak ke kota. Di Jepang umumnya apato digunakan oleh kebanyakan orang yang berpenghasilan rendah hingga menengah.

Bagi mahasiswa yang ingin menyewa apato ini disarankan untuk mahasiswa yang membawa keluarga dengan anak maksimum dua orang. Perlu juga dipikirkan bahwa pada waktu mencari apato harus sedikit bersabar dan banyak bertanya kepada orang lain, apakah itu orang Indonesia yang sudah lama di Jepang maupun kepada orang Jepang sendiri. Demikian pula meminta pertolongan kepada ryugakusei-gakari perlu dilakukan. Semua usaha ini dimaksudkan untuk memperoleh apato dengan reikin dan shikikin serta sewa per bulannya yang murah, tetapi di dalam apato tersebut ada kamar mandi dan WC-nya.

Apato yang jauh dari universitas umumnya relatif murah dan terdiri dari dua kamar (6 jo atau 19,8 m²) serta di samping ada WC-nya juga ada kamar mandinya. Kisaran untuk reikin dan shikikin-nya sekitar ¥ 100.000 hingga ¥ 250.000 (di kota dengan keadaan apato yang sama umumnya berkisar antara ¥ 250.000 hingga ¥ 500.000). Pengertian jauh dari universitas ini adalah jarak dari apato ke universitas harus ditempuh dengan memakai sepeda-Kereta Rel Listrik-sepeda atau dengan jalan kaki-Kereta Rel Listrik-jalan kaki. Untuk sewa per bulannya apato yang jauh dari universitas ini berkisar antara ¥ 25.000 hingga ¥ 40.000 (di kota, daerah yang dekat dengan universitas, berkisar antara ¥ 40.000 hingga ¥ 60.000).

Bagi mereka yang ingin tinggal di tempat yang relatif dekat dengan universitas disarankan agar menyewa apato dengan satu kamar (4,5 jo) dan satu ruang dapur serta mempunyai kamar mandi dan WC. Bila yang diinginkan apato dengan reikin dan shikikin serta sewa per bulannya yang relatif lebih murah lagi mahasiswa harus mencari yang tidak ada kamar mandinya. Apato dengan satu kamar ini sebaiknya digunakan bagi mereka yang membawa istri/suami tanpa anak.

Reikin dan shikikin untuk apato yang ada di kota dengan satu kamar dan satu dapur serta ada kamar mandi dan WC-nya adalah berkisar antara ¥ 150.000 hingga ¥ 250.000 dengan sewa per bulannya berkisar antara ¥ 30.000 sampai ¥ 40.000. Sedangkan untuk apato yang keadaannya hampir sama tetapi tanpa kamar mandi, reikin dan shikikin-nya berkisar antara ¥ 100.000 sampai ¥ 200.000 dengan sewa per bulannya berkisar antara ¥ 25.000 sampai ¥ 35.000.

Di dalam masalah penyelesaian reikin dan shikikin untuk seluruh jenis apato tersebut di atas pada prinsipnya sama dengan untuk mansions. Dengan demikian bila keluarga yang menyewa ingin terus tinggal, setelah dua tahun Reikin harus dibayar kembali. Pengembalian shikikin kepada si penyewa juga akan sangat tergantung dari kerusakan apato yang disewa.

Berdasarkan keterangan tersebut di atas dapat dikemukakan bahwa apato sebaiknya digunakan bagi mahasiswa yang membawa keluarga. Bagi mereka yang tidak membawa atau belum mempunyai anak, apato yang disewa disarankan agar yang cukup besar untuk berdua. Apato yang demikian ini kemungkinan bisa diperoleh dilokasi yang dekat dengan universitas karena ditinjau dari segi reikin dan shikikinnya serta uang sewa per bulannya relatif masih bisa terjangkau.

Sedangkan bagi keluarga yang membawa anak (anak sebaiknya maksimum dua orang), apato yang disewa disarankan agar yang cukup besar. Mengingat apato yang ada di kota ini cukup mahal meskipun cukup memadai bagi mereka yang membawa keluarga (termasuk 2 anak) maka ada baiknya bila keluarga ini tinggal di daerah yang agak jauh dari universitas. Di luar kota biaya untuk keperluan sehari-hari dan biaya untuk sekolah anak-anak, khususnya untuk sekolah Taman Kanak-Kanak sangat murah bila dibandingkan dengan di kota. Sebagai bahan informasi, perlu juga disampaikan di sini bahwa biaya perlengkapan rumah tangga suatu keluarga dengan dua anak memerlukan jumlah yang sangat besar dan ini perlu diperhitungkan dalam biaya pengeluaran secara keseluruhan.

3. Gesshuku
Sistem Gesshuku atau indekos membolehkan mahasiswa tinggal bersama dengan pemilik rumah (Oya-san). Mahasiswa yang memilih gesshuku ini biasanya disediakan kamar tersendiri dan bagi rumah yang bertingkat tempat gesshuku biasanya diletakkan pada tingkat dua dan mempunyai pintu masuk dan keluar tersendiri terpisah dari pemilik rumah.

Dulunya gesshuku ini hanya diperuntukan bagi mahasiswa Jepang. Akan tetapi baru-baru ini mahasiswa asingpun, sampai dengan jumlah tertentu, sudah bisa menyewanya. Namun demikian mahasiswa dan mahasiswi tidak diperbolehkan berada dalam satu gesshuku. Demikian pula mahasiswa yang membawa keluarganya tidak diperkenankan tinggal dalam Gesshuku ini. Semua aktivitas di gesshuku yang melibatkan orang lain (di luar penghuni gesshuku) harus sepengatahuan Oya-san.

Fasilitas yang ada dalam gesshuku ini adalah selain kamar untuk setiap penghuni, tetapi juga dilengkapi dengan alat mencuci pakaian dan WC yang dapat digunakan oleh seluruh penghuni. Tidak semua gesshuku mempunyai dapur umum dan kamar mandi. Dengan demikian untuk gesshuku yang tidak ada kamar mandinya maka bila penghuni ingin mandi terpaksa harus pergi ke pemandian umum (Osento). Pada Osento ini sudah tersedia semua perlengkapan untuk mandi seperti handuk kecil, sabun, hair dryer dll. Pria dan wanita mempunyai kamar mandi yang terpisah. Orang Jepang biasanya mandi bersama sama dalam satu kamar baik dalam kamar mandi pria maupun wanita. Dalam tiap kamar mandi disediakan tempat duduk plastik untuk mandi yang dilengkapi shower untuk air dingin dan air panas. Selain shower disediakan bak air panas yang disebut ofuro dengan ukuran tergantung lokasi dan biasanya dapat diisi oleh lebih dari 10 orang. Dalam ofuro inilah biasanya orang Jepang mandi bersama-sama.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s