[Info] 120904 Japanese Footwears

Para geisha yang menggunakan Okobo >.<

Alas kaki berfungsi sebagai pelindung dari kondisi lingkungan dan -atau- fungsi dekoratif. Alas kaki biasanya terbuat dari kayu, plastik, karet, kulit, tekstil dan juga serat tanaman. Bangsa Mesir kuno diketahui telah mengenakan alas kaki yang terbuat dari kain, daun palem, papirus dll sejak abad 15 SM. Bangsa Jepang juga telah mengenal alas kaki sejak ribuan tahun lalu, yaitu pada jaman Yayoi yang berlangsung selama abad 8 SM hinga abad 3 M. Sejak saat itu bentuk alas kaki di Jepang terus berevolusi dan memunculkan variasi-variasi baru hingga akhirnya bangsa Barat memperkenalkan sepatu ala Barat pada masyarakat Jepang. Berikut ini marilah kita mengenal macam-macam alas kaki tradisional yang pernah atau masih digunakan di Jepang,

A.      Waraji
Waraji adalah sandal tradisional yang terbuat dari batang padi. Karena menggunakan bahan yang sama, banyak yang keliru antara waraji dan warazouri padahal bentuknya sama sekali berbeda. Pada jaman dahulu, waraji adalah alas kaki standar yang digunakan masyarakat Jepang namun sekarang hanya digunakan terbatas pada para pendeta Buddha. Waraji dijalin berbentuk oval seperti sandal modern dan dilengkapi dengan lubang dan tali panjng. Cara mengikat waraji berbeda-beda tergantung siapa yang menggunakannya. Pendeta, petani, prajurit dan warga kota punya cara masing-masing untuk mengikatnya. Secara umum, tali panjang yang diikat di bagian depan waraji diloloskan ke dalam beberapa lingkaran kecil (chi) yang ada di lingkaran besar di tumit (kaeshi) kemudian membentuk simpul di bagian punggung kaki barulah diikat dibagian pergelangan kaki. Bagian jari-jari kaki biasanya menonjol melewati tepi depan waraji dengan fungsi mencengkram saat melangkah. Waraji yang lentur ini biasanya digunakan untuk mendaki atau perjalanan jauh dan jarang digunakan sehari-hari kecuali dalam kesempatan khusus seperti perayaan.
B.      Geta
Geta adalah sandal tradisional Jepang yang menyerupai kelom atau bakiak. Geta biasanya terbuat dari kayu kiri (paulownia), kini banyak dipakai bersama kimono atau yukata terkadang juga dipakai bersama pakaian Barat namun dengan kesan yang informal. Geta juga kadang dipakai saat hujan atau salju untuk mencegah kaki kotor atau basah. Geta memiliki berbagai jenis, namun umumnya terdiri atas papan kayu (dai) dengan tiga lubang untuk memasukkan tali yang dijepit antara jempol dan telunjuk kaki (hanao) juga dengan dua “gigi” (ha) yang dipasang pada bagian bawah dai. Terdapat pula geta dengan satu (tengu geta) atau 3 ha, namun kurang lazim digunakan. Bentuk dai pada geta wanita adalah oval sedangkan pada geta pria berbentuk persegi empat. Agar tak licin, bagian bawah ha biasanya dilekatkan dengan lapisan sol karet.
C.      Zouri
Zouri adalah alas kaki yang berbentuk seperti sandal jepit, dengan permukaan yang agak miring –lebih tinggi di bagian belakang. Zouri biasanya dibuat dari batang padi atau serat tumbuhan lain, kain, kayu berpernis, kulit, karet, atau bahan sintetis seperti plastik. Bila sekarang geta lebih diasosiasikan dengan yukata dan berkesan informal, zouri biasanya dikenakan dengan kimono dalam kesempatan yang lebih formal. Adapun zouri yang dilapisi bahan yang menyerupai tatmai (matras Jepang), namun kelasnya mirip dengan geta—tak lazim dipakai dengan kimono melainkan dengan pakaian Barat yang kasual atau jinbei (pakaian pendek untuk musim panas). Zouri kayu yang dilapisi kain adalah zouri yang dikenakan dalam acara yang paling formal, seperti pernikahan atau pemakaman. Warna hanao yang digunakan pada zouri pria adalah putih atau hitam, sedangkan zouri wanita biasanya menggunakan warna merah. Dalam kesempatan formal, biasanya dikenakan pula tabi untuk menutup kaki.
D.      Okobo
Okobo adalah salah satu macam geta yang memiliki sebutan lain yaitu pokkuri dan koppori tergantung dengan lokasinya. Okobo biasanya terbuat dari kayu yanagi (willow) dan dibuat sangat tinggi untuk mencegah kimono menjadi kotor saat berjalan. Dahulu okobo dikenakan oleh anak-anak perempuan di kota. Selain itu okobo juga kerap dikenakan oleh maiko atau hangyoku (geisha magang), juga dikenakan saat perayaan Shicigosan bagi anak perempuan yang berusia 3, 5, 7 tahun. Wanita-wanita Oiran dan para Tayu juga mengenakan okobo yang disebut kamuro. Okobo formal yang disebut dengan omote adalah okobo yang dilapisi dengan anyaman kulit bambu, benda ini sekarang mahal sekali harganya. Ada juga yang keliru dengan menganggap okobo adalah alas kaki yang dikenakan Oiran dari tempat prostitusi macam Yoshiwara, padahal sebenarnya tidaklah demikian. Saat ini okobo juga kerap digunakan sebagai alas kaki pengantin wanita saat upacara pernikahan ataupun saat seijin shiki (perayaan kedewasaan).
Source : Animonster

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s