[Info] 120904 Karyasiswa Bagi Wanita di Jepang

Untuk membantu dalam beradaptasi dengan lingkungan baru dan memperlancar proses belajar bagi karyasiswa wanita yang akan ke Jepang, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Wanita di Jepang meskipun di dalam aturan hukumnya tidak dibedakan dari pria, namun dalam banyak hal secara langsung ataupun tidak di dalam kehidupan sehari-hari, wanita dipandang menempati kedudukan setelah pria. Di Jepang dalam banyak hal tidak berlaku aturan lady first.

Pandangan dan pola pikir seperti di atas ini tampaknya sering diberlakukan pula terhadap kaum wanita asing. Misalnya di dalam kenkyushitsu (di ruang jurusan), sudah menjadi kebiasaan yang wanita membuat air untuk teman prianya. Di dalam basu (bis) atau densha (kereta listrik) yang penuh sesak akan langka kita temui pria Jepang yang mempersilahkan duduk bagi wanita, apalagi jika wanita itu wanita muda.

Bahkan di dalam kehidupan keluarga Jepang sendiri hirarki kedudukan bapak-ibu, anak laki-laki, anak perempuan tampak berbeda dengan jelas. Dalam hal makan, menggunakan ofuro, bapak dan anak laki-laki mendapat prioritas utama. Oleh karena itu jika terjadi seorang wanita tinggal di kos di keluarga Jepang, maka bukan mustahil ia akan diberi giliran paling belakang untuk menggunakan ofuro.


Di dalam lingkungan dalam ataupun luar kampus, tampaknya sikap wanita yang ideal yang dinginkan adalah low profile dalam arti tidak mulut besar dalam bertutur kata, tidak menyolok dan ramai dalam berpakaian, tapi mengikuti ilmu padi, makin berisi makin runduk. Satu hal lain yang juga akan kurang mendapt respect jika wanita itu bersikap kemenak-menakan. Insan kampus di Jepang meskipun memandang kaum wanita di belakang laki-laki, namun dalam hal pengakuan kemampuan akademik mereka sportif.

Di beberapa kota besar seperti Tokyo, Osaka, Kobe, Hiroshima, Matsuyama, Kyoto, Fukuoka, Sapporo, dan lain-lain tersedia asrama bagi mahasiswa. Biasanya lama tinggal di asrama (gakuseiryo) dibatasi selama satu tahun untuk memberi tempat kepada mahasiswa baru, karena itu secara dini usaha pencarian tempat tinggal di apartemen sangat membantu kita pada saat diperlukan nanti. Umpamanya, bila ada rekan yang akan selesai studinya maka tempat tinggalnya dapat diisi tanpa harus membayar biaya uang kunci, dll. persyaratan bagi pencari apartemen baru.

Khususnya bagi karyasiswa wanita hal ini sangat penting agar dapat tinggal di daerah yang tidak jauh dari perguruan tingginya. Umumnya mahasiswa Jepang tinggal sekitar satu jam naik kereta api dari perguruan tinggi dan berada di perguruan tinggi sampai jauh malam. Walaupun Jepang terkenal aman dalam hal kejahatan, sehingga jarang atau tidak pernah terdengar karyasiswa asing mendapat kesulitan untuk bepergian malam hari. Walaupun demikian melihat angka statistik kejahatan yang semakin meningkat pada beberapa tahun belakangan ini, kewaspadaan akan keselamatan patut diperhatikan.

Pergaulan antara wanita-pria di Jepang cenderung bebas seperti juga terjadi di negara kita akhir-akhir ini. Walaupun demikian suasana serta adat ketimuran masih tetap terpelihara di lingkungan masyarakat Jepang pada umumnya. Pada saat ini jumlah mahasiswa asing di Jepang makin bertambah dan tidak hanya mereka yang datang dari Asia tetapi juga banyak pula mahasiswa yang datang dari Eropah maupun Amerika. Masalah perkawinan memang menjadi tanggung jawab masing-masing, tetapi bagi mereka yang berstatus pegawai negeri khususnya karyasiswa wanita, perkawinan antar bangsa yang sangat mungkin terjadi selama studi di Jepang.

Shared by : michan | https://lovejapanandkorea.wordpress.com/

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s